Sri Mulyani: Leader Bukan Tentang Me, Me, Me!

  • Bagikan

ISLUP NEWS – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyampaikan pesan penting buat perempuan yang akan menjadi calon pemimpin. Apa pesan Sri Mulyani?

“Modalnya adalah mereka memiliki sensitivitas pada lingkungannya. Apa yang bisa saya bantu? Itu adalah ciri leader, bukan tentang me, me, me. Kepedulian dan keinginan untuk melakukan sesuatu yang membantu orang lain, karena Anda sebenarnya punya alasan untuk tidak berbuat apa-apa,” ujar Sri Mulyani saat menjadi Principal Mentor di acara dialog antargenerasi bertajuk Women & Girls: Game Changers in Development, Sabtu (6/3/2021).

Plan International melaporkan sebenarnya banyak kaum muda perempuan yang yakin dengan kemampuannya bisa menjadi pemimpin. Dari laporan Plan International terbukti bahwa 62% dari 10.000 anak dan kaum muda perempuan yang disurvei di 19 negara, mengatakan yakin dengan kemampuan mereka untuk memimpin dan 76% secara aktif ingin menjadi pemimpin dalam karier, komunitas, atau di negara mereka.

Namun, hingga kini, anak perempuan di berbagai pelosok masih menghadapi berbagai hambatan untuk maju. Salah satunya terkait akses pendidikan.

Baca Juga:  Syarat dan Cara Dapat BLT UMKM Rp 1,2 Juta

Plan International mencatat masih ada 65 juta anak perempuan yang tidak bisa mengakses pendidikan. Selain itu, hambatan lainnya belum ada negara yang benar-benar menerapkan kesetaraan gender.

Perempuan sejak kecil masih menghadapi gender stereotype dan bias di berbagai hal dari akses sekolah, pekerjaan, kesempatan memimpin maupun membuat berbagai keputusan untuk hidupnya.

“Untuk itu, kami bekerja dengan berbagai mitra untuk terus mendorong kesetaraan dan kepemimpinan bagi anak perempuan di berbagai bidang,” ujar CEO Plan International Anne-Birgitte Albrectsen.

Ini menunjukkan anak perempuan punya keinginan kuat untuk maju, namun masih menghadapi berbagai hambatan. Dukungan dan investasi dari berbagai pihak menjadi vital diperlukan demi terciptanya kesempatan dan partisipasi setara bagi anak perempuan dalam pembangunan.

“Kalau saya melihat anak-anak perempuan ini yang masih sangat muda, dan mereka memiliki kepercayaan diri, dan mereka terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang positif, saya sangat bangga. Saya berharap leaders perempuan ini akan terus mengikuti passion, cita-cita kalian. Selalu lah percaya bahwa apapun yang kalian hadapi, kecil atau besar, itu pernah dirasakan oleh mentor yang lain. Jangan cepat menyerah, fokus pada tujuan yang ingin kalian capai, dan memberikan yang terbaik,” tambahnya.

Baca Juga:  Daftar 17 Gadai dan 51 Pinjol Ilegal

Sumber: detikFinance

Dikutip dari tempo.co Menteri Keuangan Sri Mulyani berbicara soal peran perempuan sebagai pemimpin. Ia mengatakan seorang pemimpin harus meluruhkan egonya agar dapat menjalin hubungan yang baik dengan orang-orang yang dipimpinnya.

“Seorang leader egonya harus dimasukkan ke lemari es, dikunci, ditutup. Jangan dikeluarin dulu. Enggak ada tempat untuk your own ego bagi seorang pemimpin,” kata Sri Mulyani dalam acara bertajuk ‘Intergenerational Dialogue Women and Girl: Changers in Development’ yang digelar secara virtual, Sabtu, 6 Maret 2021.

Menurut Sri Mulyani, ego pribadi tidak dibutuhkan untuk mencapai tujuan kelompok. Ia pun melanjutkan, ada beberapa hal yang harus dilakukan ketika pemimpin menghadapi banyak orang yang berbeda latar belakang.

Pertama, seorang pemimpin mesti lebih dulu mengerti cara untuk membangun hubungan. Ia menyatakan tidak ada kepemimpinan yang berhasil dibangun tanpa hubungan baik. Karenanya, seorang pemimpin perlu menumbuhkan empati dan pemahaman.

Sri Mulyani pun membagikan pengalamannya saat menjadi Direktur Pelaksana di Bank Dunia. Ia bercerita saat itu banyak lulusan terbaik dari universitas terkemuka yang bergabung di Bank Dunia. Tak sedikit di antaranya merasa menjadi orang-orang terhebat.

Baca Juga:  Daftar BLT Dana Desa 2021: Inilah Cara dan Syarat Lengkap

Dalam menghadapi situasi tersebut, Sri Mulyani memikirkan cara untuk lebih dulu membangun hubungan agar dapat menyampaikan hal-hal yang ingin dicapai bersama. Jadi, kata dia, pemimpin tidak boleh menunjukkan bahwa ia seorang yang memimpin secara mutlak dan harus dilayani.

“Jadi bukan yang terpenting saya adalah pemimpin kamu, tapi relationship. To lead itu tujuannya bukan kamu melayani saya, tapi untuk mencapai tujuan bersama,” kata Sri Mulyani.

Selain itu, ia mengatakan seorang pemimpin tak boleh hanya memerintah. Sebab, sikap yang cenderung memerintah akan membuat suasana menjadi tidak nyaman. “Karena bossing arround itu ya nyebelin aja,” ujar Sri Mulyani.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *